Entri Populer

Kamis, 30 Agustus 2012

ITF Sunter Bisa Reduksi Sampah Hingga 95 Persen

ITF merupakan teknologi pembakaran sampah modern yang menghasilkan asap sangat ramah lingkungan.

Untuk mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, yang menampung sampah hingga 6.500 ton per hari, Pemprov DKI berupaya membangun tempat pengolahan sampah terpadu di dalam kota dalam bentuk Intermediate Treatment Facility (ITF).

 
 Direncanakan dibangun tiga ITF di dalam kota yaitu ITF Sunter, ITF Cakung Cilincing dan ITF Marunda. Khusus, ITF Sunter ditargetkan bisa mereduksi sampah hingga 95 persen.

Dari pembangunan tiga ITF tersebut, baru ITF Sunter yang memasuki proses lelang. Sedangkan dua ITF lainnya masih sedang dalam tahap pengkajian. Ketiganya akan dibangun dengan teknologi yang ramah lingkungan dan mengurangi residu cukup banyak sehingga lingkungan sekitar tetap sehat.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo (Foke) dalam kunjungan kerja ke lokasi ITF Sunter, Jakarta Utara, Jumat (6/7) mengatakan teknologi di ITF Sunter adalah teknologi incinerator. Teknologi pembakaran sampah dengan teknologi modern yang tidak menghasilkan asap beracun, melainkan sangat ramah lingkungan.

“Mengapa bakar sampah saja musti ruwet banget? Karena kita tidak ingin bakar sampah begitu saja dilakukan di pemukiman warga. Selain asap yang mengganggu pernapasan warga, juga tidak ramah lingkungan. Karena residu yang dihasilkan masih banyak dan menghasilkan gas beracun,” kata Foke.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna mengatakan teknologi incenarator merupakan teknologi dinilai lebih tepat dengan pertimbangan luas lahan yang tersedia hanya 3,05 hektar. Incinerator dinilai memiliki beberapa kelebihan seperti kemampuan mereduksi sampah mencapai 95 persen, kemampuan menghasilkan listrik yang tinggi dan berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan serta sudah teruji dibanyak negara Eropa dan Asia.

“Saat ini sedang dilaksanakan tender dengan skema kerja sama pemerintah dan swasta dalam pengadaan infrastruktur. Pola kerjasamanya build, operate, and transfer (BOT). Kami akan lakukan tender ini secara transparan dan akuntabel,” kata Eko.

Dalam kunjungan tersebut, Foke melihat presentasi cara kerja teknologi incenarator dalam mengolah sampah dengan membakar sampah tersebut.

Presentasi yang disampaikan Planner Dinas Kebersihan DKI, Yogi Ikhwan, menyatakan di dalam ITF Sunter ada tiga komponen utama dalam pengolahan sampah. Ketiga komponen tersebut adalah incinerator, environmental control equiptment dan powerplant.

“Sampah yang disimpan kemudian dimasukkan ke dalam ruangan yang panasnya hingga 1.000 derajat celcius. Sampah yang terbakar akan menyisakan abu dan logam. Kemudian gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah disaring lagi untuk pemisahan partikel-partikel berbahaya. Setelah disaring, maka gas yang sudah aman dan tidak beracun itu akan dikeluarkan dari tabung setinggi 25 meter,” kata Yogi.

Yogi menjelaskan, teknologi incinerator merupakan teknologi yang mengubah sampah menjadi energy. Antara lain mampu mereduksi sampah hingga 95 persen, sisa sampah atau residu dapat digunakan untuk reklamasi lahan atau bahan baku paving block dan memiliki efek pengurangan gas rumah kaca, juga mampu menghasilkan energy listrik sekitar 10 megawatt.

Penulis: Lenny Tristia Tambun/ Murizal Hamzah

Minggu, 26 Agustus 2012

Jakarta Ngaca Dong Sama Negeri Singa by Rakyat Merdeka

RMOL. Seperti kota-kota besar lainnya di dunia, masalah sampah juga menjadi persoalan rumit bagi Ja­karta.
Saat ini, dengan 6.500 ton sampah per hari yang dihasilkan warga Jakarta, tentu akan menjadi per­soalan serius jika tidak ditangani dengan baik dan benar.
Karena itu, Pemerintah Pro­vinsi (Pemprov) DKI Jakarta di­minta berkaca kepada Singa­pura. Di Negeri Singa, Pemprov DKI bisa belajar tentang tekno­logi insinerator (waste-to-ener­gy). Saat ini Singapura punya em­pat insinerator modern. Hampir se­luruh sampah dan limbah padat­nya melalui proses ini.
Pakar sampah Institut Tek­noogi Bandung (ITB) Prof Enri Damanhuri mengatakan, perha­tian pemerintah Singapura ter­hadap lingkungan sangat tinggi, sehingga teknologi insinerator yang digunakan di sana bukan sekadar insinerator sederhana.

“Aspek lingkungan sudah sa­ngat diperhatikan secara ketat. Penggunaan insinerator pun su­dah sangat efektif,” tegasnya.
Menurut Enri, insinerator mo­dern seperti yang ada di Singapura butuh biaya investasi dan operasi atau pemeliharaan yang tinggi. Sebagai contoh, per ton sampah yang diproses di fa­silitas Singa­pura membutuhkan biaya sekitar Rp 350.000, ban­ding­kan dengan biaya untuk me­nimbun sampah di Bantar Ge­bang sebesar Rp 110.000 per ton. “Itu belum ter­ma­suk ongkos ang­kut ke sana yang saya kira lebih dari Rp. 50.000 per ton,” ungkapnya.

Namun jebolan Univesitas Pa­ris VII ini menyatakan, kebijak­an Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun tiga tempat pengolahan sampah ter­padu atau intermediate treatment facility (ITF) sangat tepat, kare­na dapat mengurangi ketergan­tungan pada daerah lain serta menghemat bia­ya transportasi.
“ITF adalah konsep yang sudah sejak lama direncanakan untuk Jakarta. Studi JICA (Japan Inter-national Cooperation Agency) tahun 1997 te­lah mengindikasi­kan hal ter­sebut,” katanya.

Seperti diketahui, Pemprov DKI akan membangun tiga ITF ber­teknologi modern yang ramah ling­kungan. Ketiga pengolahan sam­pah itu yang rencanannya akan dibangun bertahap mulai Agustus  ini. Antara lain di Sun­­ter, Cakung Cilincing, dan Ma­runda dengan dana dari in­vestor masing-masing senilai Rp 1,3 triliun.
Tujuan pembangunan tiga ITF ini adalah untuk melengkapi ka­pasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang. Sebab, TPA yang ada belum memadai dan teknologi belum mutakhir.

Mengometari hal ini, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna mengatakan, dalam pembangunan ITF ini memang pihaknya menggunakan tekno­logi tinggi seperti yang banyak dipakai negara-negara luar.
“Pengolahan sampah seperti ini baru pertama kali di Indo­nesia, karena investasinya cukup ma­hal. Meski begitu kita meng­harapkan biaya pembangunan ini bukan dana APBD, tapi investor. Sekarang masih dalam proses lelang dan kita pilih investor yang berminat dan cocok dengan teknologi itu,” katanya.

Tiga Pengolahan Sampah Modern Mulai Dibangun
Sebagai bentuk komitmen pe­nanganan sampah di ibukota, Pem­prov DKI Jakarta telah me­nyiapkan pengolahan sampah ber­teknologi modern dengan mem­bangun tiga Intermediate Treat­ment Facility (ITF) ramah ling­kungan di Sunter, Cakung Cilin­cing, dan Marunda. Ren­cananya, ketiga ITF tersebut di­bangun mulai Agustus men­datang secara bertahap.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, saat ini pro­ses pemusnahan sampah di Ja­karta akan memasuki fase baru da­ri menggunakan teknologi yang belum terlalu modern seperti di TPST Bantar Gebang menjadi lebih modern seperti yang akan diterapkan pada ITF. “Di Bantar Gebang sudah dikonversi menjadi teknologi modern karena gas metannya sudah menghasilkan tenaga listrik sebesar 10,5 MW, sehingga bisa dinikmati oleh lingkungan di sana,” ujarnya.
Dikatakan Fauzi, demi meleng­kapi kapasitas TPST Bantar Gebang yang tidak lagi memadai dan teknologinya yang belum terlalu modern, Pemprov DKI Jakarta akhirnya membangun tiga ITF. ITF Sunter dibangun sepe­nuh­­nya oleh Pemprov DKI Jakarta.

Sedangkan ITF Cakung Cilin­cing dibangun oleh swasta dan ITF Marunda dibangun melalui public private partnership. “Tar­getnya, kita menjadikan kapasitas itu naik menjadi 26 MW. Ke­mudian ini bisa disuplai PLN, se­hingga tidak ada lagi kesan sampah itu tidak punya nilai komersil,” katanya.

Diungkapkan Fauzi, teknologi pengolahan sampah yang digu­nakan ini merupakan tekno­logi paling muktahir di dunia dengan me­nggunakan tiga komponen. Seperti incineration atau pem­bakaran, kemudian power plant yang membuat sampah menjadi energi listrik serta teknologi environment control equipment yang ramah lingkungan.  [Harian Rakyat Merdeka]

DKI Tingkatkan Program Daur Ulang Sampah 22/5/2012 19:06 WIB

Selain membangun berbagai fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi modern, Pemprov DKI Jakarta juga giat mengembangkan pengolahan sampah di sumber melalui kegiatan 3R (reduce, reuse, dan recycle). Hal ini sesuai amanat UU 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Pasal 12 dan 13 yang mengatur ketentuan kewajiban menyediakan fasilitas pemilahan sampah.

Image Unavailable


Ketua TP PKK DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo mengatakan, untuk mengatasi persoalan sampah di ibu kota memang menuntut keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. "Salah satunya, penyediaan fasilitas pemilahan sampah (3R). Aktifitas ini bertujuan mengambil manfaat ekonomi dari sampah. Implementasinya dapat dikelola dalam bentuk bank sampah di lingkungan sekitar tempat tinggal warga," ujar Tatiek, Selasa (22/5).

Senada dengan Tatiek, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna menuturkan, pengolahan sampah secanggih apapun di tempat pengolahan akhir (TPA) akan berkurang efektifitasnya, jika sampah tidak dikelola sejak dari sumber. "Melalui Program 3R kita budayakan warga untuk melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah, sehingga kandungan sampah yang masih mempunyai nilai manfaat dapat didayagunakan," kataEko.

Pasal 22 UU 18/2008, dikatakan Eko, secara tegas, mengamanatkan kegiatan penanganan sampah melalui Program 3R, yang terdiri dari pengurangan sampah (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan pendaur ulangan sampah (recycle). Saat ini, sambungnya, Pemprov DKI dan Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI Jakarta tengah membahas Raperda Pengelolaan Sampah. Nantinya, perda ini akan mengatur secara teknis mengenai pengelolaan sampah di ibu kota, termasuk juga ketentuan pengelolaan sampah di sumber.

Salah satu langkah yang ditempuh Dinas Kebersihan untuk meningkatkan kegiatan 3R dan bank sampah, lanjut Eko, pihaknya secara rutin mengelar pelatihan-pelatihan dan penyuluhan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dengan modul yang telah disiapkan Dinas Kebersihan. Pelatihan ini diberikan antara lain kepada warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (Formapel), Persatuan Wanita Betawi (PWB), dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Kader Kebersihan tersebut akan menjadi fasilitator dan motivator aktifitas 3R di lingkungan masing-masing. "Diharapkan Kader Kebersihan ini akan menjadi perpanjangan tangan Dinas Kebersihan DKI di tingkat RW untuk menggalakan program penanganan sampah berbasis masyarakat. Mereka secara operasional menjadi bagian dari Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK) serta PKK di tingkat RW masing-masing," tandas Eko.

Di Jakarta, saat ini tersebar puluhan bank sampah atau bank daur ulang sampah. Sebagai contoh di RW 12, Kelurahan Kebayoranlama, Jakarta Selatan. Dikatakan Ngasimun, ketua RW setempat sekaligus penanggungjawab Bank Sampah Soka 12 mengatakan, kegiatan bank sampah-nya mampu mereduksi hingga 30 persen sampah yang dihasilkan warga. "Saat ini terdapat 98 anggota aktif bank sampah kita, mereka secara swadaya mengantarkan sampahnya ke Bank Sampah. Setelah kita timbang, kita catatkan di buku tabungan. Per tiga bulan, baru kita bayarkan," kata Ngasimun.

Sampah-sampah tersebut, kata Ngasimun, diolah sesuai jenisnya. Untuk sampah organik dilakukan komposting dengan mesin ataupun manual. "Ibu-ibu kader kebersihan juga giat membina warga untuk membuat kompos di rumah masing-masing," kata dia. Sedangkan untuk sampah anorganik, diolah menjadi bahan kerajinan tangan seperti tas, dompet, dan hiasan dinding. "Khusus sampah ban bekas dari bengkel-bengkel di sekitar sini, kita buat jadi pot bunga. Itu yang kita jejerkan di sepanjang jalan lingkungan untuk penghijauan, pupuknya pun dari kompos yang kita hasilkan," tambah Ngasimun.

Selain di lingkungan, kegiatan 3R juga digalakan di sekolah-sekolah. Salah satunya di SMAN 12 Jakarta. Di sekolah ini, kegiatan 3R masuk dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Lingkungan Hidup. Guru Mata Pelajajaran Mulok Lingkungan Hidup SMAN 12, Teti Suryati menuturkan, salah satu standar kompetensi yang diajarkan ke siswanya adalah memahami tehnik pengelolaan limbah padat. "Seperti praktek membuat kompos, lubang biopori, daur ulang kertas dan mengubah plastik kemasan menjadi berbagai jenis kerajinan. Prakteknya pun tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah siswa masing-masing, sehingga turut mengedukasi keluarganya," ucapnya.

Bahkan, kata Teti, kurikulum Mulok Lingkungan Hidup di sekolahnya akan dijadikan percontohan oleh UNESCO untuk diterapkan di beberapa negara. "Agustus tahun ini, saya diundang UNESCO untuk memberikan paparan di Jepang mengenai silabus dan materi ajar Mulok Lingkungan Hidup dalam acara Regional Workshop for Green School Action in East Asia on Theacher Capacity Building in Climate Change Education," katanya.
Reporter : erik | Editor : erik

Jumat, 24 Agustus 2012

3R, Tetap Terampuh Tanggulangi Sampah DKI by Unilever

Untuk mengatasi persoalan sampah khususnya di Ibu Kota, memang tidak mungkin bisa mengesampingkan peran penting masyarakat sebagai salah satu pihak pemangku kepentingan. Apalagi, jika mempertimbangkan belum ada satu pun metode yang sanggup mengalahkan pengolahan sampah di sumber. Itu sebabnya, Pasal 22 UU 18/2008, secara tegas memang mengamanatkan kegiatan penanganan sampah melalui Program 3R, yang terdiri dari pengurangan sampah (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan pendaur ulangan sampah (recycle).
 


Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, Eko Bharuna mengatakan, pengolahan sampah secanggih apapun di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) akan berkurang efektifitasnya, jika sampah tidak dikelola sejak dari sumber. Makanya melalui Program 3R kita budayakan warga untuk melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah, sehingga kandungan sampah yang masih mempunyai nilai manfaat dapat didayagunakan," ucapnya seperti dikutip oleh ANTARA berapa waktu lalu.

Saat ini, Pemprov dan Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI Jakarta sedang membahas Raperda Pengelolaan Sampah. Perda ini akan mengatur secara teknis pengelolaan sampah di Ibu Kota, termasuk juga ketentuan pengelolaan sampah di sumber, yang salah satunya adalah penyediaan fasilitas pemilahan sampah (3R).

Hal tersebut dilakukan seiring dengan pembangunan berbagai fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi modern.

UNILEVER- Green and Clean

Ayo Nabung Sampah Dilaporkan oleh Erna

Sampah jika tidak dikelola dengan baik tidak hanya meninggalkan masalah lingkungan, tapi juga membahayakan kesehatan. Onggokan sampah yang kerap menimbulkan bau tak sedap sebenarnya bisa menjanjikan nilai ekonomis yang tinggi. Pemprov DKI pun mulai melirik manfaat ekonomis tersebut dengan mengajak warga menyimpan sampah rumah tangga dengan membuat bank sampah. Nantinya, sampah-sampah itu akan dihargai dengan harga tinggi.
bank sampah
Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna mengatakan, mengacu pada Undang-undang 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, Pasal 12 dan 13 yang mengatur ketentuan kewajiban menyediakan fasilitas pemilahan sampah, bank sampah menjadi solusi di tengah semakin meningkatnya volume sampah di DKI Jakarta.

Nantinya masyarakat bisa menyetorkan sampah yang sudah terpilah ke bank sampah. Sampah-sampah tersebut ditimbang dan dinilaikan ke rupiah. Harga yang berlaku saat ini untuk botol plastik sekitar Rp 2.700 per kilogram, kaleng Rp 2.000 per kilogram, dan kertas putih Rp 1.500 per kilogram. "Meniru sistem bank, uang tersebut tidak langsung dibayarkan, akan tetapi dicatatkan ke dalam buku tabungan bank sampah milik nasabah," ujarnya Sabtu (26/5).

Eko menyebutkan, di Jakarta saat ini tersebar puluhan bank sampah atau bank daur ulang sampah seperti di RW 12, Kelurahan Kebayoranlama, Jakarta Selatan. "Kegiatan bank sampah di wilayah tersebut mampu mereduksi hingga 30 persen sampah yang dihasilkan warga," jelasnya.

Sampah-sampah tersebut akan diolah sesuai jenisnya. Untuk sampah organik dilakukan komposting dengan mesin ataupun manual. Sedangkan sampah anorganik, diolah menjadi bahan kerajinan tangan seperti tas, dompet, dan hiasan dinding. “Khusus sampah ban bekas dari bengkel-bengkel dibuat jadi pot bunga.

"Nantinya pot itu bisa diletakkan di sepanjang jalan lingkungan untuk penghijauan. Pupuknya pun dari kompos yang dihasilkan dari sampah organik,” katanya.


Reporter: erna 

Sampah Ancam Keselamatan Ribuan Orang Kamis, 29 September 2011 | 03:33 WIB

Kompas.Com. Sampah dan kereta rel listrik, dua hal yang sepertinya terpisah. Namun, ternyata sampah menjadi momok bagi keselamatan perjalanan kereta.
Betapa tidak, karena sampah yang menumpuk di sisi kanan dan kiri rel membuat persinyalan kereta terganggu. Perjalanan kereta menjadi tidak dapat terdeteksi.

Pada semester pertama 2011 sudah terjadi 50 kali gangguan sinyal di wilayah Depok. Kepala Resor Sinyal Telekomunikasi Depok PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi Satu Ahmad Supriadi mengatakan, salah satu penyebab utama gangguan adalah tumpukan sampah di area lajur rel. Tumpukan sampah itu membuat proses korosi kabel sinyal menjadi lebih cepat.

Peristiwa terakhir gangguan sinyal terjadi hari Minggu (25/9) sore. Gangguan itu terjadi saat Tim Biru PT KAI membersihkan sampah di sisi utara Stasiun Depok Baru. Tim Biru (tim penertiban) tidak sengaja memutuskan kabel sinyal. Kabel sinyal tersebut seharusnya tertanam di dalam tanah. Namun, karena ada tumpukan sampah, kabel sinyal berada di atas tanah.

Di sisi utara Stasiun Depok Baru, sampah bahkan menumpuk bertahun-tahun. Pedagang yang juga mendirikan lapak di sekitar rel tersebut membuang sampah sembarangan. Selain menebar bau busuk, area rel di sisi utara Stasiun Depok Baru menjadi lembab.

Acong (36), pedagang tahu di sisi utara Stasiun Depok Baru, mengakui kebiasaan buruk pedagang. Mereka membuang sampah seenaknya karena volume sampah jauh lebih besar dibandingkan dengan daya angkut petugas kebersihan. Acong memahami keinginan PT KAI menata kawasan tersebut.
Kompas bahkan menemukan dua pipa saluran pembuangan air dari lapak-lapak pedagang ke arah rel.
Lima tahun terakhir ini, sisi utara Stasiun Depok Baru secara perlahan berubah menjadi pasar tumpah.

Pedagang lebih senang berjualan di sana ketimbang di Pasar Kemiri Muka, yang letaknya sekitar 200 meter dari tempat itu. Mereka memanfaatkan lokasi yang berdekatan dengan stasiun sehingga memudahkan penumpang kereta berbelanja setelah bepergian.
Berangkat dari kondisi buruk itu, PT KAI mulai menertibkan kawasan itu sejak dua minggu. Senior Manager Security PT KAI Daerah Operasi Satu Akhmad Sujadi menginginkan kawasan itu kembali seperti sebelumnya. Selain sampah, tim penertiban juga menertibkan bangunan liar di area seluas 4 hektar itu.

Teladan baik
Di tengah buruknya kondisi sekitar rel, ada teladan baik di Bogor yang patut diketahui publik. Bram Nurdiansyah (36) bersama sejumlah rekannya, pengamen di dalam KRL, memilih membersihkan sampah di tepi rel di sekitar Stasiun Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/9). Bukan hendak menjadi pemulung, melainkan mereka ingin berbuat sesuatu bagi tempat mereka ”bekerja”.

Sejak pukul 08.00, Bram berjalan kaki menyusuri rel ke arah pintu pelintasan Pasar Anyar. Bermodal karung untuk mengangkut sampah dan gancu, Bram membersihkan sampah di sekitar rel. Bentuk sampah itu macam-macam, tetapi sebagian besar kemasan plastik.
Dari pintu pelintasan Pasar Anyar, mereka bergerak ke arah Stasiun Bogor, masuk di peron satu, kemudian setelah itu melanjutkan hingga ke pintu pelintasan menuju Sukabumi.

Ada sekitar 50 orang yang terlibat bersih-bersih jalur pelintasan kereta sepanjang 700 meter itu. Separuhnya dari Komunitas Simfoni Kereta Api (KSKA), semacam paguyuban pengamen di Stasiun Bogor. Selain itu, ada juga petugas Stasiun Bogor. Kebetulan hari itu merupakan HUT Ke-66 PT KAI.
Menurut Andre, Ketua KSKA, pengamen hendak berbuat sesuatu untuk KRL yang kerap menjadi lokasi mencari penghidupan. Beberapa tahun terakhir, KSKA menginisiasi kerja bakti setiap Jumat untuk membersihkan sampah di sekitar rel.

”Ini soal estetika juga. Stasiun menjadi kotor karena penumpang dan masyarakat sekitar sembarangan membuang sampah,” tuturnya.
Dia berharap akan ada gerakan rutin guna menyadarkan sejumlah pemangku kepentingan di sekitar pelintasan KRL untuk mau peduli dan tidak sembarangan membuang sampah. Hal itu bisa dilakukan pula dengan sosialisasi dalam bentuk seni di stasiun, sekaligus ada semacam sukarelawan untuk ”menegur” orang-orang yang membuang sampah sembarangan di KRL.

Terlebih, membuang sampah di sepanjang area rel bukan sekadar soal estetika, melainkan juga menyangkut keselamatan ribuan orang.(Andy Riza Hidayat/Antony Lee)

DKI Dinilai Berhasil Kelola Sampah, Oktober 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Selama empat tahun kepemimpinan Fauzi Bowo-Prijanto telah banyak membawa kemajuan dan prestasi membanggakan bagi Kota Jakarta. Salah satunya, memfokuskan pengolahan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi warga Jakarta dengan mengolah sampah menjadi listrik, kompos, dan barang bernilai ekonomis tinggi.

 
 
 Petugas Kebersihan membersihkan sampah sisa malam takbiran di ruas Jalan Bekasi Barat, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (10/9/2010). 
 
Buktinya, residu sampah yang dihasilkan pun bisa berkurang. Tidak hanya itu, sampah bisa langsung ditangani di dalam kota, tanpa harus dikirim ke Bantar Gebang.

Pengolahan sampah yang berhasil mengurangi nilai residu sampah ini dilakukan melalui pengembangan Intermediate Treatment Facility (ITF) dan Sentra 3R (reuse, reduce, and recycle). Kedua langkah ini mendapat apresiasi dari banyak kalangan termasuk dunia internasional. Atas keberhasilannya itu, tak jarang Gubernur DKI Fauzi Bowo diminta untuk mempresentasikannya di berbagai seminar internasional terkait lingkungan hidup.
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo, menilai, selama empat tahun kepemimpinan Fauzi Bowo-Prijanto, Pemprov DKI berhasil dalam meningkatkan pengolahan sampah terpadu, baik melalui tempat pengolahan sampah terpadu yang disediakan Pemprov DKI maupun pengolahan sampah yang melibatkan masyarakat.
“Buktinya, residu sampah yang dihasilkan pun bisa berkurang. Tidak hanya itu, sampah bisa langsung ditangani di dalam kota, tanpa harus dikirim ke Bantar Gebang. Akibatnya, mengurangi beban arus lalu lintas ke Bekasi dan menghemat biaya bahan bakar,” ujar Dwi, Selasa (4/10/2011).
Untuk itu, dirinya berharap, pola penanganan sampah terpadu melalui ITF dapat direalisasikan dengan segera membangun dua ITF lainnya yang masih dalam tahap perencanaan kemudian membangun sentra-sentra 3R di lima wilayah kotamadya agar semakin meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan 3R untuk sampah domestik rumah tangga.
Kepala Dinas Kebersihan DKI Eko Bharuna mengatakan, pihaknya juga mulai memfokuskan pengolahan sampah di dalam kota untuk mempercepat pengolahan sampah dan mengurangi volume sampah ke TPST Bantar Gebang.
“Membangun pengolahan sampah dalam kota melalui tiga unit ITF di dalam kota, yakni ITF Cakung Cilincing, ITF Marunda, dan ITF Sunter yang merupakan amanat RPJMD 2007-2012,” katanya.
ITF Cakung Cilincing, ujarnya, diperluas dari awalnya hanya 4,5 hektar menjadi seluas 7,5 hektar. Diharapkan, ketika beroperasi penuh pada tahun 2012 mampu mengolah sampah sebanyak 1.300 ton per hari. Sampah itu diolah menjadi kompos, bahan bakar pembangkit listrik berkapasitas 4,95 MW atau menghasilkan bahan bakar gas (BBG) sebesar 445.699 MMBTU. ITF Cakung Cilincing menerapkan teknologi mechanical biological treatment (MBT).
Namun, proses pembangunannya dilakukan secara bertahap, yaitu per 1 Agustus 2011 sudah beroperasi mengolah sampah 450 ton per hari menjadi kompos. Per 1 Januari 2012 beroperasi mengolah sampah 600 ton per hari dengan teknologi MBT. Sampah tersebut diolah menjadi BBG per listrik, produk daur ulang dan kompos. Per 1 Juli 2012 beroperasi mengolah sampah 1.300 ton per hari dengan teknologi MBT. Sampah tersebut diolah menjadi BBG per listrik, produk daur ulang dan kompos.
Lalu, ITF Sunter yang berdiri di atas lahan 3,5 hektar direncanakan mampu mengolah sampah sebanyak 1.200 ton per hari dengan teknologi waste to energy. Saat ini, ITF Sunter beroperasi sebagai fasilitas pemadatan sampah Stasiun Peralihan Antara Sunter (SPA Sunter).
SPA Sunter berfungsi untuk mengefisienkan ritasi kendaraan angkut sampah sehingga proses pengiriman sampah ke TPST Bantar Gebang tidak menambah potensi kemacetan di jalanan Ibu Kota. Saat ini akan dilaksanakan tender yang lebih kurang memakan waktu tiga bulan dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Swasta (KPS) dalam Pengadaan Infrastruktur. Pola kerja samanya Build, Operate, and Transfer ( BOT). Penandatanganan kontrak direncanakan pada awal Januari 2012.
Pengolahan sampah di dalam kota, dikatakan Eko, tidak hanya tergantung pada ITF saja, tetapi juga dilakukan pengurangan sampah di sumber sampah melalui program 3R. Dinas Kebersihan juga berupaya mengurangi sampah warga Ibu Kota sejak dari sumber sampah. Program tersebut di antaranya membangun lokasi 3R di permukiman masyarakat yang saat ini terdapat 94 titik 3R tersebar di lima wilayah dan mampu mereduksi 350 ton per hari atau 5 persen dari total sampah Jakarta.
“Ke depan, dalam Raperda tentang Pengelolaan Persampahan di DKI, semua pengembang kawasan diwajibkan membangun pengolahan sampahnya sendiri,” jelasnya.
Di antara pengembang kawasan yang sudah berkomitmen membangun Sentra 3R adalah pengembang Pantai Indah Kapuk (PIK). Di lokasi Fasos dan Fasum PIK akan dibuat proyek percontohan Sentra 3R dengan menggandeng Investor dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Di sana akan dibangun fasilitas pengolahan sampah dengan teknologi Integrated Dry Anaerobic Digestion and Composting. Sampah di sini akan diolah menjadi listrik dan kompos. Namun bedanya dengan ITF, Sentra 3R kapasitasnya lebih kecil, sekitar 200 ton per hari.
Sentra 3R juga direncanakan dibangun di lokasi Asrama Dinas Kebersihan Pesanggrahan Jakarta Selatan bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum (PLP PU) dengan kapasitas 200 ton per hari yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.