Entri Populer

Jumat, 24 Agustus 2012

Membangun Pengolahan Sampah Mandiri

oleh Robert Adhi Ksp

 Sampah acapkali menjadi persoalan dalam sebuah kota. Namun jika kita pandai mengelolanya, sampah bukan lagi produk buangan, tapi produk yang menghasilkan. Inilah yang dilakukan masyarakat yang bermukim di tujuh RT di RW 012, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

 
Pada awalnya, sampah rumah tangga dari 700 keluarga di wilayah ini dibuang ke TPA di sekitar permukiman. Namun pembuangan sampah di TPA itu mengundang protes warga di sekitar TPA yang mengancam menutup TPA itu. Pengurus RW 012 Pamulang Barat pun berembug. Tahun 2007, sudah muncul ide pengolahan sampah. Namun, kata Sugeng Rahardjo, koordinator pembangunan pengolahan sampah RW setempat, menyatukan pendapat 700 keluarga di RW itu tidaklah mudah.

Melalui konsolidasi yang cukup lama, akhirnya 700 keluarga di RW 012 sepakat membayar secara bersama-sama biaya pembangunan pengolahan sampah sebesar Rp 120 juta. Setiap KK diwajibkan membayar Rp 200.000. Beberapa keluarga membayar dengan cara mencicil Rp 50.000 per bulan selama empat bulan. Demikianlah, cara RW 012 Pamulang Barat ini melibatkan warganya dalam pembangunan pengolahan sampah.

Dan tepat hari Minggu 6 Juni 2011, pengolahan sampah milik masyarakat ini diresmikan, yang dihadiri antara lain oleh Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan Tb Budi Murdani dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Tangsel Toto Sudarto.
Proses pengolahan sampah ini sederhana. Sampah-sampah organik atau acap disebut sampah basah, yang dibawa dari rumah-rumah warga, dibawa ke tempat penampungan dan pengolahan, untuk kemudian diproses selama 12 hari-14 hari. Setelah proses fermentasi selesai, sampah organik itu diperhalus dengan mesin pengayak, dan selanjutnya dimasukkan dalam plastik, dijual sebagai pupuk. Kalau pun tidak digunakan, hasilnya dapat disebar ke tanah dan tidak mengundang lalat.

Sementara sampah-sampah non-organik dimasukkan ke tempat pembakaran atau insenerator berukuran 1,25 meter x 1,25 meter x 1,5 meter., dengan suhu sekitar 1.000 derajat Celcius. Di sini dibuat sistem hidro agar terjadi uap air yang menangkap partikel asap. Dengan demikian, yang keluar dari cerobong adalah asap yang sudah difilter dan tidak merusak lingkungan.
Setiap hari sampah rumah tangga dari 700 keluarga di RW 012 di Pamulang Barat ini sekitar satu ton. Sampah-sampah ini diangkut petugas yang jumlahnya dua orang per RT atau 14 orang untuk 7 RT. Sedangkan di tempat pengolahan sampah ini terdapat 10 orang yang bekerja, Sampah-sampah ini diolah sedini mungkin agar prosesnya lebih baik. Setiap KK membayar Rp 16.000 per bulan agar sampah mereka terangkut dan diolah di mesin pengolah itu.

Pengolahan sampah mandiri oleh masyarakat RW 012 Pamulang Barat ini merupakan yang pertama di Kota Tangerang Selatan. Wakil Ketua DPRD Tangsel Tb Bayu Murdani memuji upaya masyarakat membangun tempat pengolahan sampah dengan biaya masyarakat sendiri. Bayu berharap masyarakat di RW-RW lainnya di kota ini melakukan upaya serupa. Jika di setiap RW menyediakan lahan maksimal 500 meter persegi untuk pengolahan sampah dan membuat dengan biaya sendiri secara gotong-royong, ini akan sangat membantu mengatasi problem sampah perkotaan.

Ini memang langkah kecil yang dilakukan masyarakat di lingkungan yang kecil yang sangat layak dicontoh. Bayangkan jika masyararakat di setiap RW di Tangerang Selatan, bahkan di kota-kota lainnya di Indonesia, melakukan hal yang sama, persoalan sampah dan lingkungan bisa teratasi. Langkah kecil dari Pamulang ini pun secara tidak langsung ikut membantu mengatasi persoalan pemanasan global.

Partisipasi masyarakat langsung dalam mengelola sampah secara mandiri dilakukan masyarakat Jepang sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan melalui pendidikan usia dini, anak-anak diperkenalkan pentingnya peduli lingkungan hidup. Di kota Kitakyushu, Jepang, ada museum lingkungan hidup, di mana anak-anak usia dini sudah diajak mengenal lingkungan. Di museum itu juga diperlihatkan foto-foto kota Kitasyushu di masa lalu, di mana polusi industri menganggu lingkungan kota. Melalui berbagai upaya, ternasuk pengolahan sampah mandiri oleh warga kota, akhirnya Kitakyushu menjadi kota dengan tingkat polusi yang rendah.
Apakah langkah kecil dari Pamulang Barat di Tangerang Selatan ini bisa menjadi gerakan massal? Mudah-mudahan.

*) Robert Adhi Ksp, editor di Kompas.com, peserta Asian City Journalist Conference (ACJC) di Kitakyushu dan Fukuoka, Jepang, yang memfokuskan pada persoalan lingkungan hidup dan pemanasan global.

Pembangunan Pengolahan Sampah Terpadu Sudah Tepat by Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar sampah Enri Damanhuri menyatakan, kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun tiga tempat pengolahan sampah terpadu atau Intermediate Treatment Facility (ITF) sangat tepat karena dapat mengurangi ketergantungan pada daerah lain serta menghemat biaya transportasi.
  
"ITF adalah konsep yang sudah sejak lama direncanakan untuk Jakarta. Studi JICA tahun 1997 telah mengindikasikan hal tersebut," kata Damanhuri di Jakarta, Sabtu (7/7/2012) pagi.

Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sebaiknya berkaca kepada Singapura soal teknologi insinerator (waste-to-energy) karena saat ini Singapura mempunyai empat insinerator modern yang hampir seluruh sampah dan limbah padatnya melalui proses ini.

Enri menambahkan Singapura secara efektif menggunakan teknologi ini. Perhatian pemerintah Singapura terhadap lingkungan sangat tinggi sehingga teknologi insinerator yang digunakan di sana adalah bukan sekedar insinerator sederhana. Aspek lingkungan sudah sangat diperhatikan secara ketat.  

Menurut dia, insinerator modern seperti yang ada di Singapura membutuhkan biaya investasi dan operasi atau pemeliharaan yang tinggi.

Sebagai contoh, per-ton sampah yang diproses di fasilitas Singapura membutuhkan biaya sekitar Rp350.000, bandingkan dengan biaya untuk menimbun sampah di Bantar Gebang sebesar  Rp110.000/ ton, belum termasuk ongkos angkut ke sana yang saya kira lebih dari Rp. 50.000 per-ton.
 
Sebelumnya Pemprov DKI Jakarta akan membangun tiga Intermediate Treatment Facility (ITF) berteknologi modern yang ramah lingkungan. Ketiga pengolahan sampah itu yang rencanannya akan dibangun secara bertahap mulai bukan Agustus 2012 ini antara lain di Sunter, Cakung Cilincing, dan Marunda dengan dana dari investor masing-masing senilai Rp1,3 triliun.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo baru-baru ini mengatakan, tujuan pembangunan tiga ITF ini adalah untuk melengkapi kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Ini dilakukan karena tempat pembuang yang selama ini digunakan belum memadai dan belum didukung teknologi mutakhir.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna menambahkan, dalam pembangunan ITF ini memang pihaknya menggunakan teknologi tinggi seperti yang banyak dipakai negara-negara luar. "Pengolahan sampah seperti ini baru pertama kali di Indonesia. Ini karena investasinya cukup mahal. Meski begitu kita mengharapkan biaya untuk membangun ini bukan dana APBD, tapi investor. Sekarang masih dalam proses lelang dan kita pilih investor yang berminat dan cocok dengan teknologi itu," kata Eko Bharuna.

Tiap Hari Warga DKI Sumbang 6.525 Ton Sampah by Dakta FM

JAKARTA – Rata-rata volume sampah yang dihasilkan warga DKI Jakarta setiap hari mencapai 6.525 ton atau 29.344 meter kubik. Dari volume itu, sebagian besar merupakan sampah organik (55,37 persen). Sedangkan sampah non organik 44,63 persen.

Sampah organik yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, dan daun-daun kering. Sedangkan sampah non organik, misalnya kaleng, plastik, dan besi.
Sedangkan sumber sampah, sektor yang menjadi penyumbang terbesar berasal dari pemukiman, yakni 52,9 persen. Disusul perkantoran sebesar 27,35 persen, industri sebesar 8,97 persen, sekolah sebesar 5,32 persen, pasar sebesar 4 persen, dan sektor lainnya seperti sampah di jalan atau di sungai mencapai 1,4 persen.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna mengatakan pemerintah terus berupaya menangani masalah sampah.
Program pengelolaan sampah melalui konsep 3R yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (memanfaatkan kembali) yang digalakkan Pemprov DKI Jakarta dinilai mulai membuahkan hasil.
Sebab, sejak diterapkan tahun 2007, cara ini berhasil mereduksi sampah sebesar 7 persen dari total volume sampah DKI sebesar 29.344 meter kubik per hari atau 6.525 ton per hari.

Meski demikian, penurunan volume sampah yang tertimbun per hari itu masih belum memenuhi target yang ditetapkan. Sebab, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2007-2012, pengurangan sampah harus dapat mencapai 12-15 persen.
“Masih kurang sekitar 5 hingga 8 persen lagi untuk mencapai target hingga 2012 mendatang. Masih ada waktu tiga tahun lagi untuk mencapai target itu,” kata Eko Bharuna.

Sedangkan Kepala Departemen Pemberdayaan Regional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Erwin Usman menilai Pemprov DKI telah gagal dalam mengimplementasikan UU Nomor 18/2008 tentang pengelolaan sampah.

Erwin menilai sosialisasi konsep reduce, reuse, dan recycle tidak efektif di tingkat masyarakat. (VIVA

Sampah, Persoalan Warga Jakarta by Liputan 6.com

Liputan6.com, Jakarta: Sampah masih saja menjadi persoalan bagi warga Jakarta. Selain tidak higienis, sampah yang menumpuk menyebabkan saluran air mampet dan banjir. Pekerjaan rumah bagi Gubernur DKI Jakarta mendatang?

Bisa jadi. Cobalah perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat. Sejauh mata memandang hanya sampah yang terlihat. Setiap hari, sekitar 6500 ton sampah dari Jakarta dikumpulkan di tempat itu.

Konstribusi terbanyak berasal dari areal permukiman (52,97%), sedangkan sisanya adalah perkantoran (27,35%), industri (8,97%), sekolah (5,32%), pasar (4%), dan lain-lain (1.4%).

Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta mengeklaim, pengolahan sampah di TPA Bantar Gebang sudah terbilang berhasil. “Akan tetapi, pengelolaan sampah akan jauh lebih baik bila dimulai dari warga,” kata Kepala Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta Eko Bharuna.

“Sebagian besar sampah dari Jakarta memang dibawa ke TPA Bantar Gebang,” kata Direktur Walhi Ubaidilah. “Namun, masih ada 20 persen sampah asal Jakarta yang dibiarkan di lokasi.”

Kawasan pinggiran Jakarta masih belum terbebas dari sampah. Masih banyak sampah yang menumpuk di sungai dan selokan, padahal, penanganan sampah merupakan tanggung jawab bersama, termasuk warga.

Di Kampung Ciracas, misalnya, Pemprov DKI Jakarta sudah mendirikan tempat pembuangan sampah sementara (TPS). “Warga mendapatkan insentif dari pengelolaan dan pemanfaatan sampah,” kata Ketua TPS Ciracas Karnan.(SHA)

20 Kota Pengelola Sampah by KBR68H, Jakarta

KBR68H, Jakarta – Mulai tahun depan, Tempat Pembuangan Sampah harus bisa mengurai sampah. Untuk itu, Pemerintah berusaha meningkatkan nilai guna sampah lewat sistem baru pengelolaan sampah. Dengan begitu, jumlah sampah yang tidak bisa dimanfaatkan akan lebih rendah.

Kementerian Pekerjaan Umum berencana menerapkan sistem baru pengelolaan sampah di 20 Kota besar di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Malang , Sidoarjo, dan Jambi. Sampah nantinya akan dipilah untuk didaur ulang, baik yang menjadi kompos maupun biogas. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak menjelaskan, sistem ini akan dilakukan di kota dengan Tempat Pembuangan Akhir berskala dua ribu sampah perhari. Menurut Hermanto, untuk pengelolaan sampah menjadi biogas, sejumlah perusahaan swasta telah menyatakan ketertarikannya untuk bekerjasama.

“Ini memang untuk tempat tertentu, sebenarnya bagian dari 3 R, Reuse Reduce Recycle, itu kita ingin dilakukan dari tingkat rumah tangga, dari rumah tangga bisa merekdusi memilah-milah tadi kadang sudah ada skala rumah tangga yang melakukan tadi, kemudain dikumpulkan di tempat pembuangan sementara.”
Hermanto memberi contoh salah satu pengelolaan sampah yang saat ini akan menggunakan sistem baru ini adalah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Hasil pengelolaan itu nantinya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, kompos, biogas dan menurutnya, limbah yang dibuang ke sungai pun akan jauh lebih kecil. Selanjutnya,  Kementerian juga tengah mengupayakan sistem ini di TPA Ciliwung dan Cipinang.

Terkait rencana pemerintah,  TPA Bantar Gebang tengah bersiap menerapkan sistem pengelolaan sampah ini. Mereka tengah melaksanakan proses pembangunan yang telah mencapai 80 persen. Pengelolaan sampah di Bantar Gebang dilakukan oleh PT Godang Tua Jaya. Direktur PT Godang Tua Jaya Lumbantoruan mengungkapkan, sistem ini diperkirakan berjalan di akhir 2012.

Untuk pemisahan belum, Buk. Karena kita sedang membangun tempat pemisahan, sudah 80%, mudah-mudahan kalau nggak di akhir tahun ya di awal tahun 2013 akan go. Pasti semua orang apalagi Pemda-pemda di seluruh Indonesia akan tertarik dengan sistem pemisahan ini karena sampah organik dengan sampah plastik maupun non-organik sudah dipisahkan dan semua bisa dijadikan bahan baku industri.”

Melalui sistem ini, nantinya sampah yang terbuang atau sama sekali tidak berguna volumenya akan lebih kecil. Lumban juga mengatakan, pihaknya juga tengah mengembangkan sebuah alat yang akan memanfaatkan gas dari cacahan sampah organik menjadi bahan baku listrik.
Rencana pemerintah terkait pengelolaan sampah ini sudah dilakukan masyarakat sebelumnya. Pemisahan sampah oleh warga Bukit Duri dan Kampung Pulo telah dilakukan jauh sebelum rencana pemerintah ini. Warga dengan didampingi relawan Ciliwung Merdeka telah melakukan pemisahan sampah di tingkat keluarga. Menurut Relawan Ciliwung Merdeka Ade, inilah yang harus dilakukan pemerintah, yaitu sosialisasi pemisahan sampah di tingkat rumah tangga. Karena menurutnya, jika pemisahan dilakukan setelah tercampur di tempat pembuangan sementara, itu akan menyulitkan proses pengolahannya.

Sebetulnya yang bagus itu sosialisasi dari rumah tangga, bahwa sampah itu sudah mulai dipilah-pilah yang organik dan anorganik. Seperti warga yang kami dampingi itu pemilahan itu sudah dari keluarga, sehingga itu akan memudahkan. Karena kalau sudah tercampur, juga sudah susah dibuat komposnya itu.”
Hal senada juga disampaikan Pengamat Lingkungan Universitas Diponegoro Sudharto P Hadi . Menurutnya masalah pengelolaan sampah tidak hanya bisa diselesaikan di bagian hilir saja, yakni pemisahan di TPA. Sudharto menjelaskan, pengelolaan harus dilakukan sejak dari hulu, dari tingkat rumah tangga.

“Saya kira yang paling krusial itu justru aspek sosialnya, budaya. Budaya mengolah sampah, sekarang  ini kan hampir di semua kota itu kan ada kelompok-kelompok pengelola sampah, tapi kan itu belum menyeluruh. Pada umumnya di kampung-kampung yang tingkat kerukunannya masih tinggi. Ketika di tingkat menengah atas itu sudah susah.”

Sudharto menekankan, yang paling penting dalam upaya pengelolaan sampah bukan pada teknologi daur ulang yang  dimiliki. Namun lebih kepada bagaimana membangun kebudayaan masyarakat untuk menjadikan kegiatan mengelola sampah adalah bagian dari kebutuhan hidup. Selain itu, menurutnya, untuk membangun kesadaran mengelola sampah, ada baiknya Indonesia meniru Singapura. Untuk warga menengah atas, negara mengenakan retribusi sampah sesuai dengan sampah yang dihasilkan. Dengan begitu, akan timbul kesadaran dari masyarakat untuk mengelola atau bahkan mengurangi kegiatan memproduksi sampah.

Kiprah Sang Kreator Seni Sampah Memperkenalkan Seni oleh KBR68H

KBR68H - Dari sampah menjadi berkah. Ditangan Hardi Ahmad,  sampah  yang tak bernilai, diolah menjadi ragam produk bernilai seni. Karyanya sempat menghiasi sejumlah galeri nasional.
Tiga orang tengah sibuk bekerja di sebuah rumah kawasan Beji, Depok, Jawa Barat. Mereka tengah  memotong-motong  botol bekas air mineral. Sampah berserakan di lantai. Mereka bekerja di studio  milik Hardi Ahmad yang dipenuhi ragam jenis sampah anorganik . Berbekal kreatifitas sejak 2006 silam pemuda ini mengolahnya  menjadi ragam produk mainan anak-anak.

Hardi mengaku  aktivitas yang dilakoninya kini bermula dari iseng dan belajar secara otodidak.  “Aku pribadi ya pastinya, lingkungan rumah. Ada elektronik yang rusak pastinya, dengan sedikit imajinsi karena memang gak ada kerjaan waktu itu kan. Akhirnya aku isi dengan iseng, rencananya iseng tadinya. Cuma ada beberapa referensi aku main di Gedung Kesenian Tangerang. Kita memang main instalasi tidak spesifik ke daur ulang. Cuma coba aku aplikasiin di rumah ternyata jadinya sebuah kapal. Ada sempel diatas,” terangnya.

Meski demikian ia juga mempelajari beberapa referensi seni daur ulang dari seniman mancanegara.  “Siapa yang mengajar, wah aku juga bingung ya ketika saya ditanyakan belajar dari mana. Karena saya meemang berkarya mengekspresikan seni rupa itu sendiri. Awal mulanya sih berkembang dengan sendirinya, hanya saja beberapa tahun belakangan ini saya coba untuk menggali beberapa referensi yang berada di beberapa negara Eropa maupun Asia mengenai seni daur ulang itusendiri,” kata Hardi.

Karena kreatifitasnya itu, Hardi  sempat dituding  gila oleh sebagian  warga. Tapi lajang ini tak ambil pusing.  “Saya pernah dikirain kaya gitu. Oh gila kali, ngumpulinsampah buat apaan sih. Mau bikin kapal-kapalan. Aneh, pasti digituin. Lagian kita tidak menggubris hal-hal seperti itu. terserah aja pada mau ngomong apa. Mau ngomong kita sinting kek, yang penting kita yakin aja, sudah pernah mencoba. Daripada cuma berkomentar,” ucapnya seraya terkekeh.


Berinteraksi di Dunia Maya
Lewat media internet  Hardi memperkenalkan karya seni daur ulangnya.  Ia pajang sejumlah karyanya di halaman blog pribadi.  Di dunia maya, Hardi berinteraksi dengan komunitas-komunitas seni internasional. Diantaranya Prancis, Spanyol, Texas dan California, Amerika Serikat.

Dwi  tengah membuat robot dari botol mineral
Dwi tengah membuat robot dari botol mineral
Bersama rekan-rekannya, karya Hardi menghiasi sejumlah galeri seni. Sebut saja beberapa diantara karya mereka seperti kapal laut dan robot   yang komponennya dibuat dari berbagai jenis sampah mulai dari botol mineral, bolpen, bungkus rokok, sampai mur.“Sekilas memang ribet, tapi mengasyikan kalau kita sudah mencoba untuk memulai. Mencoba, pasti asik dan tidak akan berhenti. Kalau menurut saya pribadi, kalau menurut pengalaman aku sendiri. Sampai aku bikin kapal-kapal ini, terakhir aku hampir tembus ke beberapa galeri nasional termasuk galeri nasional, di Ancol North Are Space, Ruang Rupa juga, beberapa galeri besar lainnya,” katanya senang.

Kreatifitas seni daur ulang yang dijalani Hardi Ahmad, mengundang minat.  Dwi, salah satunya. Saat ditemui mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta  ini tengah sibuk  membuat robot. Bahannya mulai dari botol mineral, bekas kalkulator,  mur, baut sampai tutup pulpen.
Dengan sabar dan penuh konsentrasi, Dwi mencoba merekatkan mur di botol air mineral dengan lem.
KBR: “bikin seperti ini sudah berapa lama mas?”
Uwi: “Baru belajar”
KBR: “Sudah dibikin apa aja”
Uwi: “Ini aja satu, robot-robotan.
Ardi: “Dari malam ngerencanainnya.”

Uwi: “Semalem jam 4, eh jam 2. Sampai gak jadi bikin kan kecapean.”
alutista tank buatan hardi ahmad
alutista tank buatan hardi ahmad
Lain Dwi lain lagi, Robi.  Berkali-kali ia memperhatikan detail karya kapal dan robot milik koleganya. Kata Robi butuh  mood atau suasana hati yang nyaman untuk membuat seni yang satu ini.   “Gak tenang pikiran, kadang kalau lagi diam tahunya ingin bikin. Atau diam, lagi iseng-iseng  gambar, ya gambarnya aja dulu. Tergantung kita deh, tergantung bawaannya masing-masing. Kaya Bang Ardi, entah bawaannya bagaimana, bisa bikin rutin kaya gitu kan. Kalau kita-kita masih belajar ya apa yang kita ingin aja. Kita masih baru ingin, baru kita gambar aja dulu deh. Senengnya baru gambar dulu, atau nyari-nyari gambar dulu," ungkap Robi.

Lantas apakah karya Hardi  diperjualbelikan? Tidak tegasnya.  Lebih untuk mendidik masyarakat terutama anak-anak.   “Kalalu edukasi, kita lebih mengajak anak-anak untuk bermain sebenarnya. Kalau zaman dulu, mungkin kita bermain ada petak umpet, main zaman dululah istilahnya. Bikin mobil-mobilan dari kulit jeruk, atau senapan dari kulilt pisang. Nah sekarang kan akhirnya karen banyakan sampah akhirnya pake sampah. Aku coba aplikasiin, kenalin ke mereka. kalau di Tangerang ada bukaan kelas ya, jadi tiap hari minggu itu memang mereka dateng ke tempat aku, ke studio jadi mereka memang dateng sengaja untuk bikin mainan bukan mau belajar atau apa. Tapi mereka mau bikin mainan. Mereka aku kasih media lem, gunting sampai finishing catnya,” tegasnya.

Ilmu seni daur ulang sampah yang dimiliki Ahmad Hardi  dibagi kepada anak-anak Sanggar Atap Alis.

Mengenalkan Seni
Petang hari di Ciracas, Jakarta Timur  akhir Juli lalu .  Sejumlah anak-anak tengah  sibuk di teras  rumah petak berdinding hijau. Ini adalah Sanggar Atap Alis tempat berkumpul dan melatih anak-anak membuat seni daur ulang sampah. Sanggar ini dibangun Hardi Ahmad bersama rekan-rekannya sejak 2009 silam. Salah satu pendiri sanggar, Bucek menuturkan,”Di sini kami sekitar lima tahunan. Mengajak teman-teman kecil, lingkungan untuk berkarya, dan tidak ada tekanan buat kami, karena konsepnya mengkreatifitaskan mereka. mengedukasikan skill mereka, kami tidak mengharuskan membuat apa atau apa. Tetapi secara ilmiah, teman-teman yang bimbing.”
Seorang Anak Sanggar Atap Alis  dan karya seni daur ulang  (Foto Dokumentasi Hardi Ahmad)
Seorang Anak Sanggar Atap Alis dan karya seni daur ulang (Foto Dokumentasi Hardi Ahmad)
Hardi ikut  menimpali.  “Saya mulai mengenalkan recycle instalation itu di sanggar pada ulang tahun ketiga, Atap Alis itu sendiri tahun 2009. Yang kemudian menjadi program, mingguan program belajar untuk anak-anak mengenai seni daur ulang. Bagaimana caranya membuat mainan dari sampah, kemudian temen-teman kecil di sanggar  menglutinya. Kemudian menjadi program mingguan,” terangnya.





Anak-anak itu kata Bucek tak dilatih untuk  menjadi seniman  yang terampil mengolah ragam produk daur ulang. “Hukum-Hukum feodal yang selalu kamu salah gitu lho. Nah kami coba untuk mengajak anak-anak kecil disini, berkomunikasi secara langsung, tidak ada batasan tetapi ada etika-etika budaya yang kami terapkan bagaimana dia berbicara yang sopan. Dan bagaimana dia berbicara untuk berkomunikasi dan bertukar pikiran. Selama ini, kami bawa ke arah sana. Jadi kami tidak mengarahkan mereka harus jadi seniman, harus jadi ini tidak. Modal yang utama adalah kerangka berfikir itu saja buat kami. Ketika anak-anak itu berfikir kreatif dia tidak akan turun ke jalan. Itu yang kami usahakan selama ini,” jelasnya.

Setiap perhelatan pameran, anak-anak Sanggar Atap Alis selalu dilibatkan. Karya mereka misalnya pernah tampil di ajang Biennale 2012 atau Taman Ismail Marzuki, TIM Jakarta. Karya Mutiara bocah kelas lima SD misalnya, sempat diikut sertakan dalam The King of Wall di Grand Theater Jakarta 2011 silam.  “Gimana ya, ya kan itu dibuatnya dari sampah. Gimana sih kalau dibuat recycle gitu, jadi sampahnya kan biar semakin berkurang,” kata Mutiara.

tank, robot, kapal buatan hardi
tank, robot, kapal buatan hardi

Selain Mutiara, anak lainnya Upik serius menekuni seni instalasi daur ulang sampah.
KBR: “Kok bisa tertarik sama recycle instalation?”
Upik: “Awalnya seneng aja lihat om-omnya pada bikin.”
KBR: “ Dari kapan tuh”
Upik: “ Udah lama sih mbak, kira-kira dari tahun 2009-an lah.”

Kiprah Hardi Ahmad mengolah sampah menjadi ragam karya seni dan menularkan kepada generasi muda patut diacungi jempol.   “Arti penting mengolah sampah buat saya, mungkin kesadaran secara pribadi manusia yang hidup ya. Apalagi semacam kita orang-orang di kota. Hampir 30% aktifitasnya bersentuhan dengan sampah. Kalau saya sendiri punya fikiran bagaimana kita mengkombinasikan sampah untuk kemudian bisa digunakan kembali. Seperti contohnya yang saya lakukan ya. Akhirnya saya bisa mengenalkan kemada yeman-teman kecil, anak-anak khususnya ya. Bisa mengenalkan bahwasanya kita bisa mengolah sampah kita bisa membuat maninan itu sendiri, yang setiap hari ada di sekitar kita,” bebernya.
Jika mau berpikir kreatif,  sampah  bisa menjadi berkah.

(Nvy, Fik)

DKI Targetkan Penurunan Sampah 3 Persen

KBR68H, Jakarta - Pemerintah Jakarta menargetkan penurunan jumlah sampah mencapai tiga persen selama dua puluh tahun ke depan. Kepala Dinas Kebersihan Jakarta Eko Bharuna mengatakan target tersebut merupakan perencanaan dalam masterplan pengolahan sampah. Kata dia, setiap daerah harus memiliki peraturan daerah tentang pengelolaan sampah. Penanganan sampah akan dilakukan lewat daur ulang, pengurangan, dan penggunaan sampah kembali.

"Perda mengenai pembuangan sampah, itu adalah amanan undang-undang. Diatur dari Undang-undang 18 tahun 2008 tentang bank sampah. Artinya diamanatkan masing-masing daerah harus memiliki perda. Dimana perda itu mengatur pembuangan sampah dari ke hulu sampai ke hilir, dari rumah ke rumah orang ngangkut sampai bagaimana sampah itu dikelola. Sekarang engga boleh lagi sampah itu cuma dibuang, ditumpuk, dilarang oleh undang- undang dan akan dikenakan sanksi."

Eko Bharuna berharap masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya ikut membantu mengatasi persoalan sampah ibu kota. Salah satunya menyediakan fasilitas pemilihan sampah melalui program 3R. Kegiatan ini bertujuan untuk mengambil manfaat ekonomi dari sampah.