Entri Populer

Rabu, 07 September 2011

MENGOLAH SAMPAH DAPUR & SAMPAH HALAMAN MENJADI KOMPOS

Sabtu, 03 September 2011 11:38 Sampah di perumahan, dapat dikelompokkan menjadi sampah rumah tangga dan sampah yang terserak di jalan-jalan. Daun-daun yang luruh dari pohon pelindung, jika setiap hari tidak disapu tentu mengotori jalan. Langkah pertama sebelum mengolah sampah adalah memilah sampah organik (sisa makanan, sayuran, kulit buah-buahan, daun dll.) dan anorganik (seperti kertas, plastik, kaca, logam dll.). Mengubah sampah organik menjadi kompos, adalah salah satu cara mengatasi masalah sampah di perumahan. BAGAIMANA KOMPOS TERJADI Sampah organik secara alami akan mengalami peruraian oleh ratusan jenis mikroba (bakteri, jamur, ragi) dan berbagai jenis binatang kecil yang hidup di tanah. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu yaitu suhu, kelembaban dan oksigen. Makin sesuai kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam waktu sekitar 6 minggu sudah matang. Apabila sampah ditimbun saja, akan terjadi pembusukan. PROSES PENGOMPOSAN Di tempat pengomposan, mula-mula sejumlah besar bakteri akan mengunyah serpihan sampah. Kemudian jamur dan protozoa (jazad renik bersel satu) akan menyerbu, terlihat adanya lapisan putih di permukaan kompos. Ini adalah jamur dan ragi. Selanjutnya kompos dapat dijadikan tempat berkembangnya serangga dan cacing karena banyak sumber makanannya. Mikroba Bahan organik + Oksigen ------------> Kompos + Gas CO2 + Air (H2O) + Panas Pada pembuatan kompos satu adonan sekaligus, minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja sehingga suhu dapat mencapai 60-70ºC. (Pada suhu sekitar 65ºC selama 3-4 hari, bakteri patogen seperti tifus akan mati. Begitu pula biji gulma yang terbawa dalam potongan rumput). Minggu ke-3 dan ke-4 suhu mulai menurun menjadi sekitar 40-50ºC. Minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal seperti suhu tanah yaitu 30-32ºC, kompos sudah matang. Bahan baku kompos Bahan yang kaya karbon (C) menjadi sumber energi makanan untuk mikroba. Tanda bahan ini adalah kering, kasar atau berserat, berwarna coklat (sampah coklat). Sedangkan nitrogen (N) diperlukan untuk tumbuh dan berkembang biak, umumnya berwarna hijau, mengandung air (sampah hijau). Sampah coklat (Karbon tinggi) Daun kering Rumput kering Serbuk gergaji serutan kayu Sekam padi Kertas Kulit jagung Jerami Tangkai sayuran Sampah hijau (Nitrogen tinggi) Sayuran Buah-buahan Potongan rumput segar Daun segar Sampah dapur Bubuk teh dan kopi Kulit telur Pupuk kandang (mis. ayam, itik, sapi, kambing) Perbandingan C dan N Perbandingan sampah coklat dan sampah hijau dapat bervariasi tergantung bahan yang tersedia. Perbandingan yang tepat, mempengaruhi kecepatan pengomposan. Dapat digunakan perbandingan sampah coklat 1 bagian, sampah hijau 2 bagian atau lebih. Jika terlalu banyak bahan hijau, akan keluar banyak air, becek dan berbau. terlalu banyak bahan coklat, pengomposan memakan waktu lama atau terhenti. Bahan yang sebaiknya tidak dibuat kompos Sampah dapur berupa daging, ikan, kulit udang, tulang, susu, keju, lemak atau minyak, karena akan bau dan mengundang serangga seperti lalat dan pada proses pengomposan timbul belatung. Sampah ini juga mengundang anjing dan kucing untuk mengaisnya. Kotoran anjing dan kucing, kemungkinan membawa penyakit. Tanaman yang berhama atau gulma, karena hama atau bijinya masih terkandung dalam kompos. Kelembaban Air sangat diperlukan bagi kehidupan mikroba yang bekerja dalam proses pengomposan. Terlalu banyak air akan mematikan mikroba aerob, sehingga yang bekerja adalah mikroba anaerob, terjadi proses pembusukan. Maka tempat pengomposan sebaiknya tidak langsung terkena air hujan. Terlalu kering akan menimbulkan dehidrasi bagi mikroba, pengomposan berjalan sangat lambat. Kelembapan yang optimal adalah sekitar 60%, yaitu bahan kompos terasa basah seperti busa spon yang habis diperas tetapi airnya tidak sampai menetes. Jika tumpukan kompos terlihat kering karena aimya menguap, periu diperciki air lagi. Oksigen Mikroba pembuat kompos perlu udara segar (oksigen) untuk tumbuh dan berkembang biak (mikroba aerob). Jika udara habis, mikroba anaerob akan mengambil alih. Mereka menguraikan secara lebih lambat, menghasilkan gas metan yang beracun dan gas H2S yang berbau seperti telur busuk. Keluar air lindi yang berwarna hitam dan berbau busuk. Pada lapisan sampah yang baru, masih terkandung cukup oksigen. Tetapi kalau mikroba sudah mulai tumbuh, dan kompos sudah mulai terbentuk, mikroba ini memerlukan banyak oksigen sehingga perlu sering diaduk atau dibalik untuk memasukkan udara segar. CARA PENGOMPOSAN SAMPAH DAPUR Wadah Pengomposan Drum plastik, bagian dasarnya dilubangi 5 buah. Diletakkan di atas bata agar aliran udara bisa masuk. Diberi tutup dari bantalan sabut/sekam (dari jaring plastik) untuk menjaga kelembaban dan suhu pengomposan. Gentong/tempayan dari tanah liat ukuran 50-100L. Bagian dasarnya dilubangi 5 buah. Diberi tutup bantalan sabut/sekam. Keranjang Takakura: Keranjang tempat cucian (laundry basket), bagian dasarnya dilubangi 6 buah, diberi alas bantalan sabut/sekam. Di dalamnya diberi lapisan kardus. Keuntungan tempat atau wadah pengomposan yang berukuran 200 L atau lebih adalah dapat menyimpan panas sehingga suhu pengomposan dapat mencapai optimal. Jika wadah pengomposan kurang dari 50L, suhu hanya mencapai sekitar 40ºC sehingga hasil kompos masih mengandung biji gulma atau biji buah-buahan yang dapat tumbuh jika kompos digunakan. Wadah pengomposan tidak diletakkan di tempat terbuka, kena air hujan atau sinar matahari langsung. Pelaksanaan pengomposan a. Pemilahan sampah • Sampah organik yang berupa sisa makanan, kulit buah, sisa sayuran dicacah 2x2 cm. • Sisa sayur yang mengandung santan dibilas dulu, ditiriskan. Tulang, daging, lemak, minyak, disisihkan karena mengganggu proses pengomposan. b. Pencampuran • Wadah pengomposan diisi dulu dengan kompos lama 1/3 wadah. • Masukkan sampah dapur setiap hari, diaduk sampai tertutup kompos. • Jika terlalu basah ditambah sampah coklat misalnya serbuk kayu gergajian atau sekam. • Proses pengomposan berjalan jika timbul panas. • Setelah wadah penuh, 1/3 bagian bawah bisa digunakan sebagai kompos. 2/3 Bagian atas dilanjutkan prosesnya. CARA PENGOMPOSAN SAMPAH HALAMAN Wadah pengomposan • Dapat dibuat di atas tanah, memakai batu bata atau paving block, papan atau bambu. Dipasang berseling-seling agar aliran udara bisa masuk. Ukurannya kira-kira 80x80cm, tinggi 1 meter atau lebih tergantung jumlah bahan. • Adonan kompos ditimbun di dalamnya, dan ditutup dengan kain terpal, karung goni atau sabut kelapa yang dimasukkan dalam kantung dari jaring plastik. Proses Pengomposan : a. Pemilahan Sampah • Sampah organik (daun, rumput) dipilah dari sampah anorganik (misalnya sampah plastik). • Jika daun-daun terlalu lebar, dicacah sehingga menjadi potongan kecil (sekitar 3x3 cm) untuk memudahkan mikroba memakannya. Makin kecil ukuran sampah, makin cepat menjadi kompos. b. Pencampuran Campur 1 bagian sampah coklat dengan 2 bagian atau lebih sampah hijau. Tambahkan 1 bagian kompos matang, campur. Jika sampah hijau kurang, dapat ditambah kotoran ternak (ayam, sapi atau kambing). Disiram air sampai lembap. Masukkan ke dalam wadah pengomposan. Proses pengomposan berjalan, jika hari kedua adonan kompos menjadi panas. c. Pembalikan • Untuk mengendalikan ketersediaan udara segar (oksigen) dan suhu dilakukan pembalikan setiap 7 hari sekali. • Jika adonan kompos kering perlu diperciki air. d. Pematangan • Setelah proses pengomposan berjalan 4 minggu, suhu menurun mendekati suhu tanah. Pembalikan tetap dilakukan selama 2 minggu. • Tanda-tanda kompos yang sudah matang a.l.: - Tidak terlihat bahan aslinya (daun), tetapi menjadi butiran seperti tanah. - Tidak berbau sampah atau busuk, tetapi berbau tanah. - Wama kehitaman atau coklat kehitaman. - Suhu sama dengan suhu tanah. e. Pengayakan • Kompos yang sudah matang diayak untuk memisahkan dari bahan-bahan yang kasar misalnya ranting, potongan daun, biji-bijian atau kulit buah yang belum menjadi kompos karena terlalu besar atau keras. • Kompos kasar yang tertinggal di ayakan dapat digunakan sebagai aktivator karena mengandung mikroba pengurai sampah, dapat dicampurkan ke dalam tempat pengomposan yang baru. f. Pengemasan • Kompos yang siap pakai dimasukkan ke dalam kantung ptastik kedap air agar kelembaban terjaga. • Kompos yang terialu basah perlu diangin-anginkan teriebih dahulu di tempat teduh. Pemeriksaan mutu kompos Kompos yang baik : Tidak berbau busuk, tetapi berbau tanah. Warna kehitaman atau coklat kehitaman, berbentuk butiran seperti tanah. Suhu sama dengan suhu tanah. Jika dimasukkan ke dalam air seluruhnya tenggelam, warna air bening. Jika sebagian besar mengambang, berarti ada bahan yang tidak menjadi kompos (dari pembusukan atau pembakaran sampah). Jika airnya keruh, berarti mengandung air lindi dari pembusukan sampah. Jika digunakan untuk pupuk tidak tumbuh tanaman yang tidak dikehendaki (gulma), tanaman lebih subur. Mempercepat pengomposan Memperkecil ukuran bahan. Sampah dicacah dengan golok atau mesin pencacah. Menambahkan aktivator, yaitu campuran mikroba yang dapat dibeli di toko pertanian yaitu bioaktivator atau effective microorganism (EM), dengan berbagai merk. Mikroba ini sifatnya baik karena membantu kita membunuh bakteri patogen. Sumber: Kebun Karinda Djamaludin Suryohadikusumo & Sri Murniati Djamaludin Bumi Karang Indah Blok C-2 / 28, Lebak Bulus, Jakarta 12440 Telp. 021-75909167; Fax. 021-75909168 E-mail : djamaludinsuryo@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar