Entri Populer

Jumat, 24 Agustus 2012

20 Kota Pengelola Sampah by KBR68H, Jakarta

KBR68H, Jakarta – Mulai tahun depan, Tempat Pembuangan Sampah harus bisa mengurai sampah. Untuk itu, Pemerintah berusaha meningkatkan nilai guna sampah lewat sistem baru pengelolaan sampah. Dengan begitu, jumlah sampah yang tidak bisa dimanfaatkan akan lebih rendah.

Kementerian Pekerjaan Umum berencana menerapkan sistem baru pengelolaan sampah di 20 Kota besar di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Malang , Sidoarjo, dan Jambi. Sampah nantinya akan dipilah untuk didaur ulang, baik yang menjadi kompos maupun biogas. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak menjelaskan, sistem ini akan dilakukan di kota dengan Tempat Pembuangan Akhir berskala dua ribu sampah perhari. Menurut Hermanto, untuk pengelolaan sampah menjadi biogas, sejumlah perusahaan swasta telah menyatakan ketertarikannya untuk bekerjasama.

“Ini memang untuk tempat tertentu, sebenarnya bagian dari 3 R, Reuse Reduce Recycle, itu kita ingin dilakukan dari tingkat rumah tangga, dari rumah tangga bisa merekdusi memilah-milah tadi kadang sudah ada skala rumah tangga yang melakukan tadi, kemudain dikumpulkan di tempat pembuangan sementara.”
Hermanto memberi contoh salah satu pengelolaan sampah yang saat ini akan menggunakan sistem baru ini adalah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Hasil pengelolaan itu nantinya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, kompos, biogas dan menurutnya, limbah yang dibuang ke sungai pun akan jauh lebih kecil. Selanjutnya,  Kementerian juga tengah mengupayakan sistem ini di TPA Ciliwung dan Cipinang.

Terkait rencana pemerintah,  TPA Bantar Gebang tengah bersiap menerapkan sistem pengelolaan sampah ini. Mereka tengah melaksanakan proses pembangunan yang telah mencapai 80 persen. Pengelolaan sampah di Bantar Gebang dilakukan oleh PT Godang Tua Jaya. Direktur PT Godang Tua Jaya Lumbantoruan mengungkapkan, sistem ini diperkirakan berjalan di akhir 2012.

Untuk pemisahan belum, Buk. Karena kita sedang membangun tempat pemisahan, sudah 80%, mudah-mudahan kalau nggak di akhir tahun ya di awal tahun 2013 akan go. Pasti semua orang apalagi Pemda-pemda di seluruh Indonesia akan tertarik dengan sistem pemisahan ini karena sampah organik dengan sampah plastik maupun non-organik sudah dipisahkan dan semua bisa dijadikan bahan baku industri.”

Melalui sistem ini, nantinya sampah yang terbuang atau sama sekali tidak berguna volumenya akan lebih kecil. Lumban juga mengatakan, pihaknya juga tengah mengembangkan sebuah alat yang akan memanfaatkan gas dari cacahan sampah organik menjadi bahan baku listrik.
Rencana pemerintah terkait pengelolaan sampah ini sudah dilakukan masyarakat sebelumnya. Pemisahan sampah oleh warga Bukit Duri dan Kampung Pulo telah dilakukan jauh sebelum rencana pemerintah ini. Warga dengan didampingi relawan Ciliwung Merdeka telah melakukan pemisahan sampah di tingkat keluarga. Menurut Relawan Ciliwung Merdeka Ade, inilah yang harus dilakukan pemerintah, yaitu sosialisasi pemisahan sampah di tingkat rumah tangga. Karena menurutnya, jika pemisahan dilakukan setelah tercampur di tempat pembuangan sementara, itu akan menyulitkan proses pengolahannya.

Sebetulnya yang bagus itu sosialisasi dari rumah tangga, bahwa sampah itu sudah mulai dipilah-pilah yang organik dan anorganik. Seperti warga yang kami dampingi itu pemilahan itu sudah dari keluarga, sehingga itu akan memudahkan. Karena kalau sudah tercampur, juga sudah susah dibuat komposnya itu.”
Hal senada juga disampaikan Pengamat Lingkungan Universitas Diponegoro Sudharto P Hadi . Menurutnya masalah pengelolaan sampah tidak hanya bisa diselesaikan di bagian hilir saja, yakni pemisahan di TPA. Sudharto menjelaskan, pengelolaan harus dilakukan sejak dari hulu, dari tingkat rumah tangga.

“Saya kira yang paling krusial itu justru aspek sosialnya, budaya. Budaya mengolah sampah, sekarang  ini kan hampir di semua kota itu kan ada kelompok-kelompok pengelola sampah, tapi kan itu belum menyeluruh. Pada umumnya di kampung-kampung yang tingkat kerukunannya masih tinggi. Ketika di tingkat menengah atas itu sudah susah.”

Sudharto menekankan, yang paling penting dalam upaya pengelolaan sampah bukan pada teknologi daur ulang yang  dimiliki. Namun lebih kepada bagaimana membangun kebudayaan masyarakat untuk menjadikan kegiatan mengelola sampah adalah bagian dari kebutuhan hidup. Selain itu, menurutnya, untuk membangun kesadaran mengelola sampah, ada baiknya Indonesia meniru Singapura. Untuk warga menengah atas, negara mengenakan retribusi sampah sesuai dengan sampah yang dihasilkan. Dengan begitu, akan timbul kesadaran dari masyarakat untuk mengelola atau bahkan mengurangi kegiatan memproduksi sampah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar